Tuesday, March 27, 2018

Akhirnya ku menemukanmu

Suatu hari, seseorang yang baik akan datang kepadamu
Seseorang yang tidak mempedulikan warna kulit, rambut, dan bentuk wajahmu
Seseorang yang menenangkan sedihmu, merayakan bahagiamu
Seseorang yang mendukung keputusanmu, memaafkan khilafmu
Dan seseorang yang memenangkan hatimu
Bagiku, telah hadir seseorang itu
Bahkan sejak lama
Namun aku sangat terlambat menyadarinya
Kamu satu-satunya yang aku sakiti
Tapi tak pernah pergi
Kamu satu-satunya yang aku benci
Namun tetap peduli
Dan kini
Kamu satu-satunya orang yang membantuku menapaki mimpi

Wednesday, March 21, 2018

PECANDU AYAM GORENG IBU


Ketika itu, matahari belum sepenuhnya bangun
Para daun pun masih bermandi embun
Dari sudut ruang dengan lampu remang
Terdengar dering alarm membangunkan
Ibu ternyata sudah menunggu alarmnya berdering
Seolah tak mau kalah, pejantan ayam berkokok bersahutan
Diambilnya satu dan mulai di bumbu oleh ibu
Racikan bumbu turun temurun
Aromanya selalu sedap
Membuatku tak sabar untuk segera melahap
Belum sempat mengecap, dering telephone ku berbunyi
“Hallo Nduk, bangun ! Jangan lupa sembahyang !”
Ku buka mata dan ku cari-cari dimana ibu
Sepaket dengan ayam goring buatannya
Sedikit kecewa, karena aku tak menemukan keduanya
Tapi aku berharap dapur itu selalu sibuk
Makan masakan ibu, aku sangat rindu
Makan bersama ibu, jauh lebih candu
Dari anakmu di tanah rantau

SURAT RINDU


Maaf aku baru balas suratmu 11 tahun lalu
Karena aku ingat kalau ini hari Jumat menjelang Sabtu
Memang Jumat yang aku pilih telah sangat terlambat
Waktu itu kau memintaku membuat syair rindu
Maka aku melamun dan membayangkan waktu itu
Berlarian di pematang sawah milik simbah
Celana suwir-suwir, kaos oblong tanpa kerah
Sesekali nyemplung karena dilambai kedung
Tatkala pulang kerumah aku selalu bawa hadiah
“Buk, aku masuk angin”
Dan angin langsung minggat dengan sekali pijat
Ah… nikmatnya masa-masa itu
Oh iya, aku sampai lupa menulis surat balasan untukmu
Nanti aku kirim kalau sudah rindu
Sabar ya menunggu suratku !

SELAMATAN PEGAWAI


5 menit sebelum minum kopi
Akal sehatku melambat, imajinasiku menyeruat
Rasanya seperti tersesat, menemui aku bukan aku
Dan keasingan mereka, mengasing dari tawa
Aku sangat bosan tak tertahan
Berangkat subuh pulang petang
Beradu dengan computer dan benda-benda mati lainnya
 Hanya semut yang hidup
Mengerumuni bangkai cicak
Di sepetak ruang sumpek, bau tikus dan orang belagu
Setiap hari dan hampir 6 bulan
Sebentar lagi selamatan lalu melahirkan
Doakan lahiranku lancer
Melahirkan kalimat-kalimat yang sehat tanpa cacat
Anak-anak kalimat yang akan mengusir penat
Dari bapak pena dan induk tinta
Salam kasih untuk yang terkisah

Wednesday, March 7, 2018

SALAH RESEP


Aku hendak protes pada penjual kantuk
Karena ia memberiku kantuk jam 8 pagi
Padahal aku harus ngantuk di malam hari
Kalau begini bagaimana aku bisa fokus berpuisi

Aku harus protes pada penjual kantuk
Karena ia salah menuliskan resepnya
Malam hari yang seharusnya aku tidur malah terjaga
Malam terjaga, pagi berkarya
Kapan aku tidurnya?

Aku harus ngantuk
Pintaku pada mata selepas jam 8 malam
Mata diam, ia tetap tak mau terpejam

Sendiri

Jika saatnya tiba Senja pasti akan kehilangan sinarnya Lalu kegelapan merajai Jika saatnya tiba Laut juga akan kehilangan deburnya ...