Ia basuh keriputnya dengan air wudlu
Mengayuh peluh menggandeng becak
Ngetem tepat di stasiun ibukota tak kurang dari jam
5
Lalu aku dekati namun tak bisa ku kenali
Yang mana becak, yang mana pemiliknya
Karena mereka sama-sama tua
“Ayo pak” Pintaku
“Maaf nak.. Bapak menunggu anak”
Aku langsung memeluk bapak tua itu
Entah apa yang mendorongku
Mungkin rindu
Bapak becak lalu memperhatikanku
Sangat dalam.
Keriputnya menegang, airmatanya keluar
Ku peluk sekali lagi, untuk ku bisiki
“Ini anak yang meninggalkanmu 10 tahun lalu pak.
Aku sudah pulang. Maka bapak jangan menungguku lagi
untuk datang
Aku sudah disini.
Maka bapak tak akan ku biarkan sendirian lagi”
No comments:
Post a Comment